Info

Bos Kejam Tak Cuma Merusak Mood, Tapi Juga Memperburuk Kesehatan

Jadi, apakah Anda masih mau bertahan di tempat kerja dengan bos kejam?

Yasinta Rahmawati

Ilustrasi pekerja kantoran (Pixabay/hamonazaryan1)
Ilustrasi pekerja kantoran (Pixabay/hamonazaryan1)

Himedik.com - Dalam dunia kerja, sering kali karyawan harus berhadapan dengan atasan yang menyebalkan. Banyak pula pekerja yang harus menghadapi bos kejam dan tidak kompeten.

Memiliki bos dengan karakter tersebut tentu membuat suasana hati buruk, tapi efek merusaknya tidak berhenti sampai di situ.

Dikutip dari Fast Company, penelitian telah menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang negatif dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit kardiovaskular.

Dalam bukunya Dying for a Paycheck Jeffrey Pfeffer, profesor di Stanford Graduate School, mengaitkan 120.000 kematian berlebih setahun dengan tempat kerja Amerika Serikat yang penuh tekanan.

Para peneliti dari Harvard Business School dan Stanford University menganalisis hasil lebih dari 200 penelitian untuk lebih memahami efek stres di tempat kerja.

Ketidakamanan pekerjaan dan tuntutan yang tak henti-hentinya secara sempurna mencirikan lingkungan yang diciptakan oleh bos yang buruk. Dan efek kesehatan negatif yang diukur oleh para peneliti Harvard dan Stanford sama buruknya dengan apa yang terlihat pada orang-orang yang terpapar asap rokok dalam jumlah yang signifikan.

Ilustrasi perundungan di tempat kerja. (pixabay/mohamed_hassan)
Ilustrasi tempat kerja. (pixabay/mohamed_hassan)

 

Bahkan penelitian dari American Psychological Association melaporkan bahwa 75% pekerja Amerika mengidentifikasi bos mereka sebagai bagian terburuk dan paling stres dari pekerjaan dan 60% pekerja AS akan memilih bos baru daripada kenaikan gaji.

Namun, bagian dari masalahnya bisa jadi pada bagaimana kita menghadapinya. Ketika memiliki bos yang buruk dan tidak memiliki rekan kerja yang menyenangkan untuk berbagi kerasahan kantor, lebih mudah untuk mengatasinya dengan memilih kebiasaan buruk, kata psikolog tempat kerja Dr. Andrea Goeglein, penulis Don’t Die With Vacation Time on the Books.

"Stres dapat muncul sebagai ketidakpedulian terhadap diri sendiri, apakah itu makan atau tidak makan," katanya, dikutip dari The Ladders.

"Alih-alih berjalan-jalan saat makan siang untuk mengeluarkan tenaga, reaksi umum adalah makan gorengan atau minum koktail. Perilaku coping yang tidak sehat dapat menempatkan Anda pada risiko penyakit yang lebih tinggi, terutama jika perilaku tersebut menyebabkan Anda bertambah gemuk," jelasnya.

Ada banyak teori mengapa orang terus bekerja untuk bos yang buruk, mulai dari Sindrom Stockholm hingga loyalitas perusahaan. Terkadang itu hanya sindrom "sofa nyaman", di mana upaya untuk mencari pekerjaan baru tampaknya terlalu sulit dilakukan.

Masalahnya adalah semakin lama Anda tinggal dengan bos kejam dan buruk perilakunya ini, semakin sulit meyakinkan diri Anda untuk pergi dan semakin besar beban yang harus ditanggung pikiran, tubuh, dan keluarga Anda.

Berita Terkait

Berita Terkini