Wanita

BB Turun Tak Selamanya Bikin Bahagia, Kisah Wanita Ini Buktinya

Ia merasa perubahannya tidak pernah cukup.

Rauhanda Riyantama | Dwi Citra Permatasari Sunoto

Kisah wanita diet yang pengaruhi kesehatan mental. (twitter/irnarale)
Kisah wanita diet yang pengaruhi kesehatan mental. (twitter/irnarale)

Himedik.com - Umumnya wanita akan bahagia ketika mereka berhasil diet dan menurunkan berat badannya. Namun, tidak dengan wanita satu ini.

Tidak diketahui siapa nama asli pemiliki akun twitter @irnarale. Namun, ia membagikan kisahnya yang berhasil menurunkan berat badan sekaligus memengaruhi kesehatan mental.

''Aku kelebihan berat badan sejak usia 13 tahun. Aku mencoba setiap diet termasuk akupunktur, mesoterapi, penghancur lemak, hanya mengonsumsi air kelapa dan semangka selama berminggu-minggu, hingga puasa.

Aku kehilangan 5 hingga 10 kg, tapi berat badanku selalu kembali dan aku melakukannya lagi seperti lingkaran setan.

Dua tahun berlalu, aku memutuskan melakukan gym dengan tujuan untuk menjaga kesehatan mental dan itu berhasil. Kondisiku lebih stabil dan bahagia.

Pada saat itu, menurunkan berat badan adalah bonus yang bagus. Aku menikmati prosesnya. Aku semakin kuat dan sehat setiap hari.

Prosesnya sangat lambat karena aku menolak membatasi diri. Namun, aku tak masalah dengan itu. Bagiku kebahagiaanku lebih penting daripada angka (berat badan).

Kisah wanita diet yang pengaruhi kesehatan mental. (twitter/irnarale)
Kisah wanita diet yang pengaruhi kesehatan mental. (twitter/irnarale)

 

Tentu saja aku merasa bangga dengan diriku sendiri jika angka-angka itu turun, tetapi ketika tidak, aku juga baik-baik saja dengan itu. Lalu?

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi semuanya berubah sekitar 5-6 bulan yang lalu. Berat badanku tidak mengalami perubahan selama berbulan-bulan, tapi kemudian tiba-tiba berat badanku turun drastis.

Tiba-tiba aku merasa tidak bahagia. Sungguh tidak bahagia. Tentang berat badanku, tentang tubuhku, tentang bagaimana penampilanku.

Pujian mulai berdatangan, tapi aku tidak bisa melihatnya. Yang aku lihat di cermin masih gadis gemuk.

Aku melihat tubuhku satu persatu, tanganku, perutku, dan kakiku membuatku jijik. Aku tidak pernah membenci diriku dan tubuhku lebih dari yang aku lakukan sekarang.

Keadaan itu memburuk saat aku membeli pakaian dan mencobanya di ruang ganti tapi ukuran yang pas adalah yang lebih kecil. Hal itu membuatku panik dan menangis.

Bukan menangis bahagia, tetapi karena aku bingung. Aku yakin label itu membohongiku, aku tidak mungkin cocok dengan ukuran itu.

Aku tahu ini gila, tapi kepalaku tidak bisa memahaminya. Dalam pikiranku, aku masih gemuk. Paha dan lenganku besar. Aku masih memiliki dagu ganda. Perutku masih buncit, rasanya mustahil.

Aku mulai membatasi apa yang aku makan. Aku menghukum diri sendiri ketika makan sesuatu yang buruk. Obsesif menghitung kalori. Tidak lagi memiliki waktu untuk beristirahat.

Aku sangat takut bahwa satu kesalahan akan menyebabkanku kembali ke titik awal, membuat semua kerja keras ini akan sia-sia.

Dan kalian tahu apa yang membuatnya semakin buruk? Orang-orang di sekitarku benar-benar mendukungku ketika aku tidak makan apa-apa.

Mereka menyemangatiku karena mentalku cukup kuat untuk menghindari godaan. Mereka pikir itu normal karena aku mencoba menurunkan berat badan.

Itu tidak normal. Ini tidak sehat. Namun, tidak ada yang melotot ketika aku hanya duduk di sana minum air sementara yang lain menikmati makanan mereka. Seperti yang yang mereka harapkan, aku tidak makan.

Pada titik ini, rasanya tidak ada jumlah penurunan berat badan yang cukup bagiku. Aku masih tidak tahu apakah itu cukup atau kapan itu akan cukup, atau apakah itu akan cukup. Aku benar-benar tidak tahu.

Kisah wanita diet yang pengaruhi kesehatan mental. (twitter/irnarale)
Kisah wanita diet yang pengaruhi kesehatan mental. (twitter/irnarale)

 

Aku telah mencapai berat badan yang aku idamkan saat usiaku 13 tahun. Namun, aku masih menginginkan lebih banyak.

Aku menemukan lebih banyak alasan untuk melanjutkan. Aku menemukan lebih banyak alasan untuk menyalahkan diri sendiri.

Apakah aku masih melakukan ini untuk diriku sendiri? Apakah aku masih melakukan ini untuk semua alasan yang benar?

Aku terus meyakinkan diriku sendiri setiap hari. Namun, jauh di dalam hatiku, aku tahu ini tidak lagi benar. Aku tidak tahu mengapa aku masih melakukannya.

Aku tahu sesuatu harus berubah. Aku harus lebih baik pada diriku sendiri. Aku harus mulai mencintai diriku sendiri lagi.

Saat ini aku mencoba belajar menerima pujian. Tidak apa-apa merasa bangga dengan kemajuanku. Itu membuatku senang seperti yang aku lakukan sebelumnya.

Sementara itu, aku ingin mengingatkan semua orang untuk tidak mengatakan hal-hal yang mengecewakan kepada teman-temanmu ketika mereka sedang menjalani aktivitas kebugaran karena itu menyakitkan.

Kebanyakan orang yang kelebihan berat badan sepertiku memiliki kepercayaan diri yang sangat rendah untuk memulai. Jangan rusak itu.

Aku pernah mendengar ''Mana? Katanya lo ngegym setiap hari? Kok gak kurus-kurus?'' padahal aku sudah kehilangan 7 Kg. Atau ''wah lo langsing sekarang tapi lengan lo masih gede ya''.

Percayalah padaku, aku tahu. Tidak ada yang tahu tubuhku lebih baik daripada aku. Itu membuatku merasa seperti usahaku tidak cukup.

Sesuatu yang kelihatannya tidak berbahaya seperti ''Katanya mau kurus, kok makan pizza?'' bisa berbahaya.

Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan ketika kamu tidak melihatnya. Pizza itu bisa menjadi indulgensi mingguan mereka. Biarkan mereka memilikinya dan tutup mulutmu.

Saat ini, aku sangat bersyukur bahwa lingkungan kerjaku sekarang mendukungku untuk mengubah sudut pandangku.

Mereka mengingatkanku tentang tujuanku sebelumnya yaitu menjadi lebih kuat dan lebih sehat, melakukan hal-hal yang tidak dapat aku lakukan sebelumnya, dan yang lainnya hanyalah bonus.''

Berita Terkait

Berita Terkini