Info

Sering Kunyah Es Batu Bisa Menjadi Tanda Anda Mengalami Kondisi Ini

Para peserta dengan anemia secara signifikan lebih baik setelah makan es. Peserta tanpa anemia tidak terpengaruh.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah

ilustrasi mengunyah es batu (pixabay)
ilustrasi mengunyah es batu (pixabay)

Himedik.com - Bagi sebagian orang mengunyah es sudah menjadi kebiasaan. Apalagi ketika minuman sudah habis, dan hanya tersisa es batu saja.

Tahukah jika mengunyah es bisa menjadi tanda tubuh kekurangan gizi atau mengalami gangguan makan.

Selain itu, mengunyah es dapat menyebabkan masalah gigi, seperti kehilangan enamel dan sebabkan kerusakan gigi.

Melansir Healthline, mengunyah es berkaitan dengan jenis anemia umum yang disebut dengan anemia defisiensi besi.

Anemia terjadi ketika darah tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat.

Tugas sel darah merah adalah membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh Anda. Tanpa oksigen, tubuh akan mudah lelah dan kehabisan napas.

Ilustrasi es batu (Pixabay/Hans)
Ilustrasi es batu (Pixabay/Hans)

 

Orang dengan anemia defisiensi besi tidak memiliki cukup zat besi dalam darah mereka.

Zat besi sangat penting untuk membangun sel darah merah yang sehat. Tanpanya, sel darah merah tidak dapat membawa oksigen seperti yang seharusnya.

Beberapa peneliti percaya mengunyah es memicu efek pada orang dengan anemia defisiensi besi yang mengirim lebih banyak darah ke otak. Lebih banyak darah di otak berarti lebih banyak oksigen di otak.

Karena otak terbiasa kekurangan oksigen, lonjakan oksigen ini dapat menyebabkan peningkatan kewaspadaan dan kejernihan berpikir.

Peneliti mengutip sebuah studi kecil di mana peserta diberi tes sebelum dan sesudah makan es.

Para peserta dengan anemia secara signifikan lebih baik setelah makan es. Peserta tanpa anemia tidak terpengaruh.

Tapi sayangnya, ini hanya berlangsung dalam satu waktu saja.

Melansir Medical News Today, mengunyah es juga dapat menyebabkan komplikasi lain. Salah satunya komplikasi anemia, seperti:

- Jantung yang membesar atau gagal jantung.
- Komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.
- Peningkatan risiko infeksi pada anak-anak
- Pertumbuhan atau perkembangan terhambat pada anak-anak

Berita Terkait

Berita Terkini