Wanita

Dipaksa Menindik Telinga Gadis Kecil yang Menolak, Karyawan Ini Resign

Gadis itu menangis tersiksa karena dipaksa ibunya harus mau ditindik.

Vika Widiastuti

<p>Ilustrasi anak perempuan pakai anting-anting. <a href=(Pixabay/PublicDomainPictures)

">

Ilustrasi anak perempuan pakai anting-anting. (Pixabay/PublicDomainPictures)

Himedik.com - Anting merupakan salah satu jenis aksesoris yang dipakai oleh anak perempuan. Biasanya anak perempuan akan ditindik saat mereka bayi. Namun, tak menutup kemungkinan mereka baru ditindik saat sudah besar, ketika mereka sudah bisa merasakan sakit, menolak, dan protes.

Sebuah kejadian dialami oleh mantan karyawan piercing atau jasa tindik. Ia terpaksa mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja karena dipaksa menindik telinga gadis kecil yang bersikeras menolak.

Postingan Raylene Marks di Facebook menjadi viral setelah ia membagikan foto seorang gadis yang menangis tersiksa karena dipaksa ibunya harus mau ditindik.

Mantan karyawan itu menceritakan seorang gadis berusia 7 tahun benar-benar menolak ditindik. Dia tidak mau dirayu dan dijanjikan apapun.

"Saya biasa menindik anak-anak, tetapi dengan catatan mereka rela. Meskipun ada yang awalnya menolak, tetapi akhirnya mereka mau setelah melihat anting lucu atau dijanjikan sesuatu oleh orangtuanya," tulis Raylene Marks, seperti dilansir Suara.com dari Daily Mail.

<p>Ilustrasi telinga ditindik.<a href="https://pixabay.com/photos/ear-girl-pierced-close-up-female-207405/"> (Pixabay/bohed)</a></p>

Ilustrasi telinga ditindik. (Pixabay/bohed)

 

Walau sebetulnya tidak tega, tetapi Raylene berusaha melakukan. Tapi kali ini rasa kesalnya sudah memuncak. Gadis 7 tahun yang terakhir ditanganinya pada 7 April lalu menangis terisak-isak.

"Dia sangat pintar, dia menjelaskan tidak ingin tubuhnya dilukai. Tapi sang ibu memaksa menusuk. Saya kewalahan karena dia menangis selama 30 menit. Akhirnya sang ibu mengalah, dia tidak jadi ditindik," sambungnya.

Namun apa yang terjadi? Raylene dimarahi menajernya. Sang manajer mengatakan ia harus tetap menusuk telinga anak-anak jika diizinkan orangtuanya. Di situlah puncaknya ia melawan.

"Saya dengan tegas diberitahu, 'Anda tidak punya pilihan selain melakukannya,'" katanya.

"Mengapa saya harus melakukan sesuatu yang mengintimidasi anak-anak. Apakah anak-anak tidak boleh membuat keputusan untuk dirinya? Mereka tidak ingin dilukai, mengapa kita harus melakukannya?"

Ia menilai, perusahaanya tidak melindungi hak anak. Raylene benar-benar tak habis pikir perusahaan tidak punya kebijakan untuk melindungi keputusan anak-anak. (Suara.com/Vessy Dwirika Frizona)

Berita Terkait

Berita Terkini