Info

Orang Kulit Hitam Bisa Lebih Parah Alami Covid-19, Peneliti Ungkap Sebabnya

Kemungkinan pengaruh genetik, peneliti ungkap alasan orang kulit hitam lebih parah mengalami Covid-19.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana

Ilustrasi virus corona Covid-19 (Suara.com/Shutterstock)
Ilustrasi virus corona Covid-19 (Suara.com/Shutterstock)

Himedik.com - Menanggapi pasein Covid-19 berkulit hitam yang mengalami keparahan lebih tinggi dari kulit putih, para peneliti berusaha menggali alasannya. 

Dilansir dari CNN, Otopsi terhadap 10 pasien Afrika-Amerika yang meninggal akibat virus corona menunjukkan paru-paru mereka tersumbat oleh gumpalan darah. Studi tersebut dilakukan oleh tim LSU Health New Orleans School of Medicine yang dilaporkan pada Rabu (27/5/2020).

10 pasien memiliki kondisi mendasar yang telah terbukti memperburuk infeksi, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas. Tetapi faktor genetik juga bisa berperan.

Temuan yang diterbitkan dalam the Lancet Respiratory Medicine dapat membantu menjelaskan mengapa orang kulit hitam mengalami keparahan yang lebih tinggi akibat Covid-19 daripada kulit putih di AS, Inggris, dan beberapa negara lain.

"Kami menemukan bahwa pembuluh-pembuluh kecil dan kapiler di paru-paru terhambat oleh gumpalan darah dan perdarahan terkait yang secara signifikan berkontribusi pada dekompensasi dan kematian pada pasien-pasien ini," kata Dr. Richard Vander Heide, kepala patologi di LSU Health New Orleans School of Medicine.

"Mungkin ada jenis faktor genetik," kata Vander Heide.

Misalnya para ahli patologi tidak melihat peradangan jantung pada pasien virus corona di AS, tapi komplikasi tersebut banyak terjadi di China.

"Temuan ini dapat menjelaskan mengapa orang kulit hitam secara umum lebih menderita Covid-19 di Inggris," tulis Dennis McGonagle dari Universitas Leeds dan rekannya dalam komentar terkait.

"Sebuah fitur dari penyakit virus corona telah menimbulkan peningkatan kematian pada kelompok-kelompok kulit hitam, Asia, dan Etnis Minoritas di Inggris, yang telah mengakibatkan Pemerintah Inggris membentuk satuan tugas investigasi darurat," catat mereka.

"Di AS, angka kematian akibat Covid-19 sangat tinggi di antara orang-orang Afrika-Amerika di kota-kota besar."

Sebuah studi dari New Orleans dalam New England Journal of Medicine, menemukan jumlah pasien rumah sakit Covid-19 yang tidak proporsional adalah orang Afrika-Amerika.

Para peneliti melaporkan, 31 persen dari populasi pasien berkulit hitam, 77 persen dari mereka yang dirawat karena Covid-19 juga berkulit hitam dan 70 persen pasien yang meninggal akibat Covid-19 pun berkulit hitam.

Ilustrasi orang kulit hitam cuci tangan. (Dok: Pixabay)
Ilustrasi orang kulit hitam cuci tangan. (Dok: Pixabay)

"Pasien kulit hitam memiliki prevalensi obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit ginjal kronis yang lebih tinggi daripada pasien kulit putih," tulis Dr. Eboni Price-Haywood dan rekannya di Ochsner.

"Tetapi banyak faktor yang mungkin mendasari perbedaan ras. Mereka mungkin mencerminkan perbedaan ras yang mendasar dalam jenis pekerjaan yang mungkin memiliki peningkatan risiko keterpaparan," catat mereka

"Perbedaan rasial dalam Covid-19 yang diamati mungkin juga mencerminkan perbedaan dalam prevalensi kondisi kronis yang tampaknya meningkatkan risiko penyakit parah," tambahnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

info

Apa yang Terjadi pada Otak saat Putus Cinta?

Jika Anda merasa sakit fisik atau mengalami "sakit hati" setelah putus cinta, bisa jadi karena otak bereaksi terhadap situasi dengan cara yang sama ketika Anda terluka secara fisik.