Ilmuwan Ingatkan Pandemi Setelah Covid-19 Lebih Mematikan

Seorang ilmuwan mengatakan pandemi berikutnya setelah virus corona Covid-19 akan lebih mematikan.

Shevinna Putti Anggraeni
Rabu, 08 Desember 2021 | 16:30 WIB
Ilmuwan Ingatkan Pandemi Setelah Covid-19 Lebih Mematikan

Ilmuwan Ingatkan Pandemi Setelah Covid-19 Lebih Mematikan

himedik.com - Pandemi virus corona Covid-19 telah menewaskan lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia. Seorang ilmuwan sekaligus pencipta vaksin AstraZeneca, Sarah Gilbert mengatakan pandemi setelah Covid-19 justru yang akan lebih mematikan.

Di tengah munculnya varian Omicron yang memiliki banyak mutasi dan memicu kekhawatiran di seluruh dunia, Sarah Gilbert memperingatkan bahwa pandemi virus corona Covid-19 ini memang belum usai.

Ia justru memperingatkan semua orang untuk bersiap menghadapi pandemi setelah Covid-19. Karena, pandemi berikutnya mungkin lebih buruk dari virus corona Covid-19.

Sarah Gilbert menyampaikan hal itu setelah seorang pensihat ilmiah Inggris mengatakan varian baru virus corona ini menyebar cukup cepat, sehingga aturan pembatasan perjalanan pun diberlakukan.

Kini, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) sudah melaporkan 86 kasus varian Omicron sehingga total yang diidentifikasi sejauh ini sebanyak 246 kasus.

Ilustrasi Virus Corona Covid-19, varian Omicron. (Pixabay)
Ilustrasi Virus Corona Covid-19, varian Omicron. (Pixabay)

Terlepas dari pandemi virus corona Covid-19 selama 2 tahun yang menginfeksi lebih dari 265 juta orang, Sarah Gilbert memperingatkan bahwa pandemi setelah ini mungkin jauh lebih menular dan mematikan.

"Virus corona ini bukan virus terakhir yang mengancam hidup dan mata pencaharian kita. Pandemi berikutnya akan jauh lebih buruk, mungkin lebih menular atau lebih mematikan atau keduanya," kata Sarah Gilbert dikutip dari The Guardian.

Gilbert, seorang profesor vaksinologi di Universitas Oxford yang timnya mengembangkan vaksin Covid-19 mengatakan kemajuan ilmiah dan pengetahuan yang telah diperoleh selama memerangi pandemi Covid-19 ini tidak boleh hilang atau dilupakan begitu saja.

"Kita tidak boleh melupakan perjuangan ini. Sama halnya dengan investasi dalam angkatan bersenjata dan intelijen untuk bertahan melawan perang, kita harus investasikan penelitian dan manufaktur yang dilakukan selama pandemi Covid-19 untuk bertahan melawan pandemi berikutnya," jelasnya.

Sarah Gilbert juga memberi tahu bahwa varian baru virus corona sekarang ini mengandung mutasi yang diketahui meningkatkan penularan virus dan melemahkan antibodi yang diinduksi oleh vaksin Covid-19 atau infeksi sebelumnya.

Baca Juga: Sebagian Besar Korban Erupsi Gunung Semeru Alami Luka Bakar

"Tapi, ini bukan berarti vaksin Covid-19 tidak melindungi kita dari infeksi virus corona parah dan kematian. Kita hanya perlu berhati-hati dan mengambil langkah untuk memperlambat penyebaran varian baru tersebut," katanya.

Meskipun munculnya varian Omicron ini memicu kekhawatiran di seluruh dinia, Dr Anthony Fauci, pejabat tinggi penyakit menular AS, justru mengatakan bahwa sejauh ini varian Omicron tidak meningkatkan risiko infeksi parah.

Namun, Dr Anthony Fauci juga menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan mengenai tingkat penularan dan risiko infeksi varian Omicron yang masih baru.

×
Zoomed
TERKINI
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB
Minum air memang benar membantu menghindari penyakit ginjal. Namun.......
info | 08:00 WIB