Wanita

Dipecat dari Kantor Setelah Keguguran, Wanita Ini Ajukan Tuntutan

Setelah cuti seminggu, Eleanor malah mendapatkan komentar tidak menyenangkan dari HRD.

Vika Widiastuti

Ilustrasi hamil (Unplash/Chris Benson)
Ilustrasi hamil (Unplash/Chris Benson)

Himedik.com - Direktur sebuah bank swasta di Hongkong, Eleanor Marie Coleman dipecat setelah mengalami keguguran. Ia pun memutuskan menuntut kantornya karena merasa mendapat diskriminasi. 

Dilansir DewiKu.com dari The Independent, wanita yang bergabung dengan sebuah bank swasta Swiss di Hongkong itu menuntut hampir Rp 2,5 miliar pada kantornya.

Selain tuntutan berupa uang, Eleanor juga menuntut mantan kantornya untuk minta maaf dan memberikan training kesadaran anti-diskriminasi pada semua staff senior dan direktur di kantor tersebut.

Tindakan tegas Eleanor bermula dari tindakan kurang menyenangkan yang dia dapatkan di tempat kerjanya.

The Independent menuliskan jika Eleanor bergabung di bank swasta tersebut sejak awal 2016 dengan status masa percobaan atau training.

Ilustrasi wawancara kerja. (Unsplash/Rawpixel)
Ilustrasi kerja. (Unsplash/Rawpixel)

 

Di tengah masa training, Eleanor hamil dan dia memilih tidak menceritakan status kehamilannya pada perusahaan dengan pertimbangan belum menyelesaikan masa percobaan.

Saran ini ia dapatkan setelah berkonsultasi dengan supervisornya. Supervisor menyarankan Eleanor untuk memberitahu perusahaan ketika mendekati waktu melahirkan.

Sayangnya Eleanor keguguran pada tanggal 31 Maret dan harus mendapat perawatan rumah sakit pada tanggal 3 April.

Eleanor pun beristirahat selama seminggu untuk masa pemulihan sebelum kembali bekerja.

Setelah cuti seminggu, Eleanor malah mendapatkan komentar tidak menyenangkan dari HRD dengan berkata waktu cutinya tidak bisa diterima dan ia seharusnya menghadapi tanggungjawabnya jika ingin jadi ibu yang baik.

Ilustrasi wawancara kerja. (Unsplash/Rawpixel)
Ilustrasi kerja. (Unsplash/Rawpixel)

 

Atasan Eleanor pun memberi sikap yang buruk. Dia berkata jika Eleanor harus tanggung jawab pada pekerjaan dan kehamilannya sudah berakhir.

Setelah mendapat tekanan itu, kondisi Eleanor justru memburuk dan dia mengalami pendarahan.

Parahnya Eleanor harus kembali dioperasi dan dan tak bisa aktif di kantor hingga 30 April namun tanggal 28 April dia malah dipecat.

Atas tindakan tidak menyenangkan ini Eleanor menuntut kantornya Rp 2,5 miliar karena dianggap memberikan pernyataan tidak pantas mengenai kehamilan dan kehidupan keluarga. (DewiKu.com/Rima Suliastini)

Berita Terkait

Berita Terkini