Wanita

Benarkah Pil KB Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Payudara dan Kanker Serviks?

Pil KB secara umum terbagi menjadi dua.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah

Ilustrasi pil KB (Shutterstock)
Ilustrasi pil KB (Shutterstock)

Himedik.com - Pil KB kerap menjadi andalan orang untuk mencegah kehamilan? Lalu benarkah penggunaan pil KB dapat berisiko untuk kesehatan?

Pil KB secara umum terbagi menjadi dua, yaitu pil kombinasi yang mengandung dua hormon seksual wanita, estrogen dan progesteron dan pil mini, mengandung progesteron. Pil ini juga dikenal sebagai 'pil progestin saja atau POP.

Sayangnya jenis pil kombinasi, yang mana lebih banyak dikonsumsi oleh orang-orang memiliki efek lain, yaitu peningkatan risiko kanker payudara.

Sedangkan mengonsumsi pil KB dalam waktu 5 tahun atau lebih memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakan pil kombinasi.

Hal ini dijelaskan dalam laman resmi cancerresearchuk.org bahwa peningkatan risiko kanker payudara dan kanker serviks akan turun kembali setelah pil kombinasi tidak lagi dikonsumsi.

Ilustrasi serviks [Shutterstock].
Ilustrasi serviks [Shutterstock].

 

Tapi, jika sudah dikonsumsi lebih dari 10 tahun, risiko seseorang tidak lagi terpengaruh.

Walau begitu, pil KB kombinasi punya 'kebaikan' lain, yaitu mengurangi risiko kanker ovarium dan rahim.

Semakin lama pil kombinasi diambil, semakin besar pengurangan risiko kanker ovarium dan rahim. Dan efeknya tetap selama beberapa dekade setelah pil berhenti digunakan.

Untuk jenis pil mini atau pil progesteron, belum diketahui apakah mempunyai dampak yang sama dengan pil kombinasi atau tidak. Sebab pengguna pil mini ini masih sedikit.

Sejauh ini bukti menunjukkan pil mini memengaruhi risiko kanker payudara dengan cara yang mirip dengan pil kombinasi. Tapi, penggunaan produk progestin saja, seperti pil mini belum dikaitkan dengan risiko kanker ovarium.

Jadi, sebelum menggunakan pil KB, diskusikan dahulu dengan dokter Anda. Keputusan Anda dalam menggunakan alat kontrasepsi harus mempertimbangkan risiko dan manfaat, gaya hidup Anda, kondisi medis lainnya, dan preferensi pribadi Anda.

Berita Terkait

Berita Terkini