Info

Studi Ungkap Alasan Pemalas Sebenarnya Punya Otak Cerdas

Benarkah orang mager sebenernya pinter?

Vika Widiastuti | Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana

Ilustrasi bermalas-malasan - (Shutterstock)
Ilustrasi bermalas-malasan - (Shutterstock)

Himedik.com - Para peneliti baru-baru ini menyebutkan, orang yang bekerja tanpa usaha yang keras bukan berarti bodoh, melainkan malas. Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Health Psychology, orang-orang itu malah bisa jadi tergolong cerdas.

Penelitian yang dipimpin oleh Todd McElroy itu mengklaim bahwa orang yang menghabiskan waktu yang lebih sedikit untuk berpikir biasanya tipe orang yang lebih aktif secara fisik dibandingkan dengan mereka yang lebih suka menggunakan kekuatan otak saja.

McElroy dan tim penelitinya mempelajari aktivitas fisik 60 mahasiswa sarjana dan memisahkan mereka menjadi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari mereka yang memiliki kebutuhan akan kognisi (NFC) yang tinggi, sementara yang lain adalah kelompok dengan NFC rendah.

Menurut para peneliti ini, NFC adalah kecenderungan untuk terlibat dan menikmati kegiatan kognitif yang menantang.

Dengan kata lain, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang suka memecahkan teka-teki memiliki NFC yang lebih tinggi, berbeda dengan orang-orang dengan NFC rendah, yang memilih melakukan tugas-tugas biasa yang tidak merangsang pikiran.

Ilustrasi bermalas-malasan - (Shutterstock)
Ilustrasi bermalas-malasan - (Shutterstock)

 

Subjek penelitian dipasangi perangkat yang mirip dengan Fitbit untuk merekam gerakan mereka setiap 30 detik. Setiap orang mengumpulkan 20.000 poin data, yang kemudian digunakan untuk membandingkan tingkat aktivitas dari kedua kelompok.

Hasilnya, dikutip HiMedik.com dari D'Marge, Selasa (26/3/2019), menunjukkan perbedaan yang besar antara orang dengan NFC rendah dan NFC tinggi.

Selama seminggu itu, mereka yang memiliki NFC rendah jauh lebih aktif daripada mereka yang memiliki NFC tinggi. Di akhir pekan, data menunjukkan perbedaan yang tak begitu jauh, yang berarti kedua kelompok itu sama-sama lebih suka bersantai.

Namun, menurut Vice, merujuk sebuah artikel dari Independent, tingkat kognisi bukanlah cerminan dari kecerdasan seseorang.

"Orang dengan IQ lebih rendah bisa menikmati kehidupan kontemplatif dan tantangan kognitif yang bagus, misalnya. Demikian pula, banyak orang dengan IQ tinggi tidak suka menggunakan otak mereka dengan cara yang menantang," ungkap si penulis.

Membaca buku - (Unsplash/@anniespratt)
Membaca buku - (Unsplash/@anniespratt)

 

McElroy percaya, motivasi sederhana adalah faktor kunci aktivitas fisik seseorang. Orang bisa memilih melakukan aktivitas fisik yang lebih lama ketika mereka menghindari tugas yang membutuhkan aktivitas mental yang menantang.

"Hanya karena Anda tampaknya malas atau dianggap orang lain memenuhi syarat sebagai pemalas, Anda mungkin sebenarnya sedang sibuk dengan beberapa jenis pemikiran dalam tingkat yang lebih tinggi untuk mencapai suatu tujuan," kata McElroy.

Disebutkan, orang-orang yang cerdas sebenarnya sadar akan risiko kesehatan dari gaya hidup malasnya meskipun mereka mungkin tetap tidak berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

McElroy dan para peneliti berencana untuk menyelidiki lebih lanjut subjek yang memiliki NFC tinggi dan jarang gerak ini untuk menemukan apa yang mereka lakukan ketika tidak bergerak secara fisik.

Berita Terkait

Berita Terkini