Lamanya Jam Kerja Pengaruhi Kesehatan Mental, Ini Idealnya Menurut Studi!

Para akademisi telah menyarankan untuk menentukan jam kerja yang sesuai dengan kesejahteraan optimal.

Vika Widiastuti | Shevinna Putti Anggraeni
Kamis, 20 Juni 2019 | 18:00 WIB
Lamanya Jam Kerja Pengaruhi Kesehatan Mental, Ini Idealnya Menurut Studi!

Lamanya Jam Kerja Pengaruhi Kesehatan Mental, Ini Idealnya Menurut Studi!

himedik.com - Sebuah penelitian mengungkapkan bekerja selama 8 jam dalam seminggu atau lebih tepatnya bekerja hanya satu hari dalam seminggu selama 8 jam ternyata bermanfaat untuk kesehatan.

Menurut studi tersebut, kerja selama 8 jam per minggunya adalah waktu yang optimal untuk kesejahteraan dan menurunkan risiko gangguan kesehatan mental seseorang.

Tetapi, para peneliti dari Universitas Cambridge dan Salford juga tidak menemukan data bahwa bekerja lebih dari 8 jam sehari dan setiap minggunya meningkatkan risiko tersebut.

Para akademisi telah menyarankan untuk menentukan jam kerja yang sesuai dengan kesejahteraan optimal. Dalam hal ini mereka telah melakukan survei dengan memeriksa hubungan antara perubahan jam kerja dan kesehatan mental serta kepuasan hidup seseorang.

Mereka melibatkan sebanyak 70 ribu orang di Inggris dengan karakteristik usia, jumlah anak, penyakit yang diderita dan pendapatan rumah tangga.

Ilustrasi: Begadang, lembur, kerja shift malam. (Shutterstock)
Ilustrasi: Begadang, lembur, kerja shift malam. (Shutterstock)

 

Sebanyak 70 ribu peserta itu juga ditanya mengenai masalah kecemasan, harga diri dan waktu tidur untuk mengetahui kondisi mentalnya.

"Kami memiliki panduan efektif untuk penelitian ini mulai dari asupan vitamin C hingga waktu tidur untuk mengetahui kondisi mereka," kata Dr Brendan Burchell salah satu peneliti dikutip dari Daily Mail.

Hasilnya, jam kerja sangat beperan penting dalam menjaga kesehatan mental pekerja. Dalam hal ini jam kerja yang lebih singkat sangat bermanfaat untuk kesehatan mental manusia.

Dr Jed Boarman, pemimpin inklusi sosial di Royal College of Psychiatrists juga menambahkan bahwa menjadi pengangguran bukan pilihan yang tepat. Karena pengangguran juga bisa berdampak buruk pada kesehatan mental dan kesejahteraan.

Baca Juga: Untuk Jaga Kebersihannya, Seberapa Sering Botol Minum Harus Dicuci?

Tetapi, pekerjaan yang terlalu membebani dengan jam kerja padat dan kesejahteraan tidak imbang juga tidak baik untuk kesehatan mental seseorang.

"Berada di dalam pekerjaan yang penuh tuntutan tinggi dan kompleksitas, ketidaknyamanan pekerjaan dan upah kerja yang tidak adil sama buruknya bagi kesehatan mental seseorang seperti yang dirasakan oleh pengangguran," jelasnya.

Sebuah studi tahun 2017, orang yang memiliki pekerjaan penuh tekanan lebih berisiko mengalami masalah kesehatan dan stres.

Kondisi ini juga akan memengaruhi kadar glukosa dan kolesterol yang lebih buruk. Selain itu juga meningkatkan kadar zat yang terkait pembekuan darah dan peradangan.

Darah tinggi dan kadar kolesterol dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, sementara gumpalan darah dapat menyebabkan emboli paru yang mematikan.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB