Studi: Polusi Udara Terkait Penyakit Kardiovaskular, Terutama Stroke!

Paparan jangka panjang polusi udara luar partikel halus merupakan kontributor utama penyakit kardiovaskular dan kematian.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Jum'at, 26 Juni 2020 | 07:00 WIB
Studi: Polusi Udara Terkait Penyakit Kardiovaskular, Terutama Stroke!

Studi: Polusi Udara Terkait Penyakit Kardiovaskular, Terutama Stroke!

himedik.com - Paparan polusi udara luar partikel halus yang berasal dari pembakaran, termasuk mesin mobil, perapian dan pembangkit listrik tenaga batu bara bisa jadi kontributor utama penyakit kardiovaskular dan kematian. Hal tersebut dinyatakan dalam sebuah studi baru di Oregon State University.

Dilansir dari Medicalxprss, studi besar-besaran yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health itu menggunakan data dari studi Prospective Urban Rural Epidemiology (PURE). Para peneliti menganalisis 157.436 orang dewasa berusia antara 35 dan 70 tahun di 21 negara dari 2003 hingga 2018.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan peningkatan 5 persen pada semua kejadian kardiovaskular untuk setiap 10 mikrogram per meter kubik konsentrasi partikel polutan udara di bawah ukuran 2,5 mikron (PM2.5).

Setidaknya 14 persen dari semua kejadian kardiovaskular yang didokumentasikan dalam penelitian ini dapat dikaitkan dengan paparan PM2.5.

"Itu angka yang besar," kata peneliti Perry Hystad, seorang ahli epidemiologi lingkungan di College of Public Health and Human Sciences OSU .

Ilustrasi polusi (Unplash/Thomas Millot)
Ilustrasi polusi (Unplash/Thomas Millot)

 

"Dan itu sebagian besar dari beban penyakit kardiovaskular," imbuhnya.

Studi PURE memilih beberapa negara berpenghasilan rendah, menengah, dan tinggi untuk mengatasi kesenjangan dalam penelitian yang ada. Sebab sebagian besar studi polusi udara berpusat pada orang-orang di negara berpenghasilan tinggi dengan konsentrasi polusi udara yang relatif rendah.

"Studi saat ini melihat partikel PM2.5 karena ukurannya kecil untuk dihirup dalam ke paru-paru di mana dapat menyebabkan peradangan kronis," kata Hystad.

Partikel-partikel ini berasal dari berbagai sumber pembakaran, termasuk mesin mobil, perapian, dan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Baca Juga: Baru, Kaki dan Tangan Kesemutan Bisa Jadi Gejala Virus Corona Covid-19!

Penyakit stroke (Shutterstock)
Penyakit stroke (Shutterstock)

Dalam periode 15 tahun pengumpulan data, peserta diikuti selama sekitar sembilan tahun, 9.152 orang memiliki kejadian penyakit kardiovaskular, termasuk 4.083 serangan jantung dan 4.139 stroke serta 3.219 kematian yang dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular.

Hubungan terkuat antara paparan polusi udara dan hasil kesehatan adalah untuk stroke. Hystad mengatakan semakin banyak penelitian yang menemukan bahwa risiko stroke sangat dipengaruhi oleh paparan PM2.5, terutama pada konsentrasi tinggi.

"Selama jangka waktu penelitian, tingkat polusi beberapa negara meningkat, sementara beberapa menjadi lebih buruk," kata Hystad.

Peneliti juga mengungkapkan, bahwa pengurangan kecil tingkat polusi ternyata bisa menghasilkan pengurangan risiko penyakit.

"Studi ini menunjukkan bahwa negara-negara tidak harus memberantas semua polusi udara untuk membuat perbedaan bagi kesehatan manusia," kata peneliti  Hystad.

"Jika Anda mengurangi sedikit konsentrasi polusi udara luar, Anda akan melihat manfaat untuk penyakit kardiovaskular,"imbuhnya.

×
Zoomed
TERKINI
Mulailah dengan jumlah langkah yang lebih rendah dan tingkatkan secara bertahap agar tubuh bisa beradaptasi dengan baik....
info | 08:00 WIB
Migrain merupakan sakit kepala yang biasanya terjadi di satu sisi kepala....
info | 08:00 WIB
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu kanker....
info | 08:00 WIB
Sakit maag terjadi karena ketidakseimbangan asam lambung dalam tubuh....
info | 08:00 WIB
Untuk memenuhi asupan protein tak harus selalu mengandalkan telur lho....
info | 08:00 WIB