Wanita

Cerita Seorang Wanita yang Alami Kanker Serviks dan Masih Bisa Hamil Lagi

Luar biasa perjuangan wanita ini.

Vika Widiastuti | Yuliana Sere

Ilustrasi. (unsplash)
Ilustrasi. (unsplash)

Himedik.com - Jane Martinez (30) dari New Jersey, didiagnosis mengidap kanker serviks. Dia pun membagikan kisahnya di laman health.

"Pada musim semi 2017, saya didiagnosis menderita HPV, sebuah infeksi yang menyebabkan kutil di berbagai bagian tubuh. Saya tidak tahu seberapa parah penyakit itu karena saya pikir itu bisa ditangani oleh dokter.

Namun, kemudian terungkap bahwa saya sudah mengalami perubahan prekanker pada serviks saya. Saya pun berpikir, 'Oh, HPV agak serius, ya?'

Pemahaman saya adalah mereka akan menghilangkan sel-sel prekanker dari serviks saya. Namun, mereka menemukan tumor selama prosedur, dan saya resmi didiagnosis menderita kanker serviks pada Mei ketika saya berumur 29 tahun.

Saya sadar, saya telah mengalami dua infeksi jamur dalam setahun dan itu baru pertama kali saya alami. Saya juga mengalami kembung, meskipun masalah ini mungkin tidak berhubungan dengan kanker serviks.

Saya tidak tahu seberapa parah kanker itu. Pikiran pertama saya adalah bahwa saya akan sakit karena kemoterapi dan akhirnya mati. Itulah persepsi saya tentang kanker dari film dan majalah.

Kanker. (pixabay)
Kanker. (pixabay)

 

Dokter memberi saya beberapa nama spesialis untuk dihubungi dan saya mulai menangis di mobil selama 30 menit ketika menghubungi mereka. Saat itu, saya tidak sempat menjemput putra saya yang berusia 5 tahun di sekolah. Akhirnya tetangga saya yang menjemputnya.

Ketika saya sampai di rumah, saya memberinya pelukan. Saya ingin menatapnya dan bertanya apa yang akan terjadi padanya jika saya mati. Siapa yang akan membesarkannya? Dan itu mungkin bagian tersulit dari hidup saya.

Saya menghentikan pekerjaan saya sebagai fotografer pernikahan. Saya pikir saya tidak tahu apakah saya akan sakit atau tetap hidup untuk berkomitmen kepada mereka.

Saya pun mulai menjual barang-barang di rumah saya. Itulah cara saya mempersiapkan diri untuk mati agar orangtua saya tidak harus melakukan sesudahnya.

Spesialis pertama yang saya hubungi mengatakan histerektomi radikal — operasi untuk mengangkat rahim — adalah pilihan terbaik bagi saya, walaupun saya akan kehilangan kemampuan untuk mengandung anak lagi. Padahal saya selalu menginginkan empat anak.

Saya tidak memberi tahu banyak orang tentang diagnosis saya karena saya tidak ingin ada orang yang sedih untuk saya. Jika mereka memelukku dan menangis untuk saya, maka saya akan benar-benar hancur.

Tetapi akhirnya saya memberi tahu banyak orang termasuk manajer saya dan dia mendesak saya untuk menghubungi spesialis lain. Saya pun menemukan dokter lain secara online di Holy Name Medical Center di New Jersey yang memiliki pengalaman dalam perawatan kanker serviks.

Dia mengatakan kepada saya bahwa walaupun histerektomi radikal akan aman bagi saya, itu tidak memungkinkan saya untuk memiliki anak lagi. Di kepala saya, saya berpikir, 'Ya, saya sudah tahu ini, tapi itu pilihan terakhir saya.'

Tapi dia bilang aku punya pilihan lain. Dia kemudian menjelaskan rincian tumor saya. Dia juga menjelaskan kalau saya kandidat yang sempurna untuk tracheletomy radikal.

Dia menjelaskan prosedurnya: Saya akan menjaga rahim saya, dan dia hanya akan mengangkat leher rahim dan getah bening saya. Kemudian, jika saya ingin mengandung anak lagi, saya harus mendapatkan cerclage atau jahitan serviks untuk menutup rahim agar janin tidak jatuh.

Saya lega saya punya pilihan lain, tetapi sekarang saya harus membuat keputusan pilihan mana yang harus saya ambil. Karena saya ingin hamil lagi, maka saya memutuskan untuk menjalani tracheletomy.

Saya akhirnya menjelaskan ke anak saya bahwa dokter mengatakan jika saya memiliki sel jahat di tubuh yang perlu dikeluarkan agar saya tidak sakit.

Operasi pun berlangsung. Dimulai dari jam 3 sore hingga jam 7 malam. Semua perawat dan dokter luar biasa. Namun saya merasa mual karena obat pereda nyeri yang diberikan. Saya juga tidak punya cukup banyak energi untuk bicara.

Untuk meninggalkan rumah sakit, saya harus berjalan. Awalnya saya tidak bisa melangkah jauh, tetapi setiap kali saya mencoba, saya bisa melangkah sedikit lebih jauh.

Saya pulang dengan kateter yang sangat mengganggu dan tidak nyaman, terutama di kamar mandi. Setelah operasi, anak saya sangat senang karena saya bisa tinggal di rumah.

Saya akhirnya mengatakan kepadanya kalau saya menderita tumor dan dokter harus mengeluarkannya. Saya diberi lampu hijau untuk bekerja lagi.

Saya juga diberi izin untuk berhubungan seks namun itu membutuhkan waktu sekitar tiga bulan setelah operasi. Dan kabar terbaik adalah saya bisa hamil tetapi kehamilan saya akan berisiko tinggi, jadi saya butuh perawatan khusus."

Demikian pengalaman Jane Martinez yang dibagikan di laman health.

Berita Terkait

Berita Terkini