Wanita

Beberapa Wanita Ungkap Rasa Sakit Saat Melakukan Aborsi

Simak di sini!

Vika Widiastuti | Yuliana Sere

Ilustrasi aborsi. (pixabay)
Ilustrasi aborsi. (pixabay)

Himedik.com - Aborsi atau menggugurkan bayi secara paksa merupakan tindakan yang dilarang di kebanyakan negara dan pelakunya bisa berurusan dengan hukum, seperti di Indonesia. Meski begitu tak dipungkiri, ada beberapa negara yang melegalkan aborsi. 

Dilansir dari metro.co.uk, beberapa wanita ini memilih untuk melakukan aborsi. Mereka pun menceritakan pengalaman yang mereka alami.

Maddy (23) melakukan aborsi saat dirinya baru menginjak usia 16 tahun. Dia berhubungan seks dengan pacarnya dan kondomnya rusak. Namun dia berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kemudian dia tidak mendapatkan menstruasi. Dia memberitahu orangtuanya dan ibunya segera membelikan test pack dan hasilnya positif.

"Saya pun dibawa ke ruangan kecil, ditanyai pertanyaan apakah itu pilihan saya dan saya yakin ini yang saya inginkan. Dan saya pun menjawab ya untuk semuanya.

"Saya kemudian diberikan tablet untuk ditelan, kemudian saya langsung diberikan suntikan kontrasepsi. Keesokan harinya kami harus kembali ke ruangan kecil lain, saya berbaring dan perawat memberikan saya dua tablet dan saya kemudian pulang dengan obat penghilang rasa sakit," terangnya.

Ilustrasi aborsi. (pixabay)
Ilustrasi aborsi. (pixabay)

 

Maddy mengatakan dia merasa 'lega' setelah aborsi. "Itu adalah pilihan terbaik yang saya lakukan, saya masih belum siap untuk memiliki anak," lanjut. 

Dia juga mengatakan bahwa ia tidak menyesal sama sekali dan hanya melihat aborsi sebagai sesuatu yang menyebabkan menstruasi.

Cerita lain datang dari Anna. Saat ini ia berusia 25 tahun dan ia menjalani aborsi ketika masih 21 tahun.

Saat itu ia tidak diberikan pilihan oleh mantannya, tetapi kembali ia menyadari bahwa hal itu adalah yang terbaik untuknya. "Prosesnya mudah karena saya cukup awal dan hanya bisa minum pil," katanya.

"Saya pergi ke tempat khusus hanya untuk aborsi dan mereka memperlakukan saya dengan baik. Saya rasa setelah itu saya baik-baik saja secara fisik. Namun, saya mengalami sakit mental terutama karena saya tidak mendapat dukungan dari ayah dan menjadi hal yang tidak pernah saya lupakan," ungkapnya.

Sementara itu, Danielle yang berusia 32 tahun melakukan aborsi ketika dirinya berusia 20 tahun. Pacarnya saat itu memaksa dia untuk melakukan aborsi karena jika tidak dia akan meninggalkannya.

"Proses aborsi itu mengerikan. Saya harus menunggu dokter dalam kurun waktu yang lama. Saya marah dan saya menjadi takut untuk hamil lagi," ujarnya.

"Saya masih sangat muda dan saya kemudian menemukan bahwa pacar saya memiliki pacar yang hamil pada saat yang sama. Aborsi akan menjadi sesuatu yang akan saya ingat. Itu adalah waktu yang mengerikan bagi saya dan menjadi sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan," pungkasnya. 

Berita Terkait

Berita Terkini